Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Januari 2009

Masker Cabe

Bingung baca judulnya? Simak aja cerita ini, kawan...... 

Entah kapan tepatnya aku pernah menyarankan adikku untuk menggunakan masker cabe untuk perawatan wajah, tentu saja ini bukan saran sungguhan melainkan hanya becandaan saja. Dan pastinya ga ada yang mau menggunakan cabe untuk masker, kecipratan sedikit aja panasnya bukan main. Tapi akhirnya aku merasakan bagaimana rasanya maskeran pake cabe. Lagi-lagi ini bukan sungguhan, kawan...tapi hanya kiasan saja. Ketika aku menjalani perawatan untuk mengobati jerawat yang kian meraja lela di wajahku ini, pada tahapan kedua aku disarankan oleh dokter kulit yang merawatku untuk melakukan ’peeling wajah’ agar flek-flek yang ditimbulkan akibat bekas jerawat bisa hilang dan aku mengikuti saran bu dokter.
Aku fikir peeling wajah yang akan dilakukan sama saja seperti yang dilakukan di Ummi Baiti (salon tempat biasa aku facial). Namun setelah wajahku dibersihkan ada hal yang aneh, mbak yang ngerjain wajahku mulai memasang kipas angin tepat di depan wajahku dan bu dokter kemudian duduk serta memeriksa wajahku. Aku mulai curiga dan memutuskan untuk bertanya ”Dok, yang ini ga sakit kan?” bu dokter dengan santai menjawab ”enggak koq mbak, hanya panas dan pedih sedikit makanya dipasangin kipas ntar kalau udah selesai dikompres pake air dingin”. Weeks.......aku hanya bisa pasrah, masih kebayang perawatan pertama yang sakitnya bukan main. Bu dokter mulai mengaplikasikan cairan di wajahku, mulai menghangat.....kemudian menambahkannya lagi, terasa semakin panas dan pedih. ”tahan ya, diolesin sekali lagi” dan benar saja rasanya semakin panas.........seperti menggunakan masker cabe............!!!!!! (sampe pengen nangis nahannya.......).
Dalam hati aku berjanji, ga akan gratil dan iseng lagi mencet jerawat karena ngobatinnya sakiiiiiit banget. Dan untukmu yang membaca tulisanku ini, rawatlah wajahmu sebagai bukti syukurmu pada Allah yang telah memeberikan kulit yang sehat dan bersih. Jangan pernah gatel untuk mencet jerawat yang tumbuh secara sporadis karena akan memperparah kondisinya, segera saja konsultasi ke dokter kulit jika kemudian jerawat di wajahmu beranak pinak tak karuan. Jangan sampe ngrasain masker cabe untuk mengembalikan wajah sehatmu seperti semula. Karena aku telah merasakannya, kawan.... dan rasanya sakit buangeeet booooo.......!!!!

Selengkapnya...

Rabu, 07 Januari 2009

Sahabat Kecil

Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Di lawang indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan
kan tetap mengagumimya
Kesemptan seperti ini tak akan bisa di beli

Bersama mu ku habiskan waktu
Senang bisa mngenal diri mu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Melawan keterbatasan
Walau sedikit kemungkinan
Takkan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi

Bersama mu ku habiskan waktu
Senang bisa mengenal diri mu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Janganlah berganti...
Tetaplah seperti ini.....

(diambil dari lirik "Sahabat Kecil" Ipang)

Selengkapnya...

Jumat, 15 September 2006

Ungkapan Mereka di 24_ku

Hmmmm...24 tahun euy, makin tua, makin berkurang jatah usia. Tapi masih banyak hal yg belum dilakukan. Terimakasih utk orang tua, sahabat, kerabat, teman dan orang orang yang pernah, tetap maupun selalu menjadi bagian terindah dlm perjalanan hidupku. Semoga Allah pertemukan kita di Jannah-Nya kelak bersama Rasulullah...
Terimakasih juga atas cinta dan do' a yang diberikan di hari ini ---bukan berarti yg ga ngucapin ga sayang, mungkin ga ada pulsa mo sms or nelfon, ga ketemu, atau mungkin ada alasan lain tapi saya yakin mereka ttp menghadiahkan do'a terindah---

Tante
Selamatt Milad
(00.05)
--baru satu sms dan ternyata bukan dari Mas Hono, biasanya sepupuku yg satu itu selalu jadi yg pertama. any way,makasih Tante, ibu sahabatku ini emang buaaeeek buaangeet--

Khalid bin Walid
Barakallah untuk usia yg masih Allah beri sampai saat ini. Smoga mjd muslimah yang selalu bersyukur atas nikmatNya, selalu sabar atas ujian keimanan dari-Nya dan semoga cpt menemukan "seorang pangeran" yg selalu menemani hingga akhir nanti, sampai ke Syurga. Amiin ya Rabb....
Mengapa dakwah itu pahit, krn jannah Allah itu manis...
(05.05)
-- Subhanallah...menyentuh banget do'anya, apalagi do'a supaya sabar itu... Jazakallah--

eLHaeR
As.D,Afwan no special gift i could give for you. Moga tambah sholehah..may we meet in JannahNya,AMIN. Plz, pray for each other....
(05.07)
--honey...special pray it's enough for me, moga qt termasuk yg istiqomah, Lv u--

Yeti
Cahaya fajar mulai menjelang di hari pertama yang menandakan pergantian usia. Maka, harap padaNya mjd keniscayaan. Met milad ukhti, moga mampu memaknai hidup dengan kacamata kedewasaan dan keimanan yang menemani langkah untuk menujuNya
(05.14)
--jazakillah, ukhti....--

My Mom
Ass.Maaf Des, ibu tadi lupa banget. Selamat telah memasuki 24 tahun usia kelahiranmu. Semoga Allah melimpahkan rahmad dan barokah. Mudah-mudahan cita-citamu tercapai
(06.56)
--pantesan...tidak ada ciuman ba'da sholat shubuh, ga juga saat berangkat, ternyata lupa toh...--

Mbak Muna
Met kurang umur, moga tambah dewasa, lancar rezeki, deket jodoh dan selalu dlm lindungan Allah
(09.52)
--makasih mbak chayank....moga kebaikan juga disampaikan Allah utk yg mendo'akan--

xl-Ulliy
Asw.mbak...klo boleh nebak, kaya'nya mabak sedang senyum-senyum kerana banyak traktiran, hehe... Afwan ana krm "sesuatunya" di testi ya mbak, ketika menuangkan isi hati rasanya terlalu singkat hanya dengan 160 karakter :D deuuh...xixixi....
(12.44)
--waah..ngirim apa ya nih adek?! jadi penasaran..--

Andrez_mas
Met milad yah d, maaf telat ngucapin =) semoga makin jadi akhwat sholehah dan segera dapat mengabdi sebagai istri yang menjadi perhiasan suaminya, amin =)
(22.24)
--hehe...kasian nih mas, masih mengulang do'a ta'on lalu, mudah2an ta'on depan do'anya ada kemajuan ya...xixi....--

Adekku kmrn sore udah ngasi kado, sebelum berangkat tadi pagi ngasi selamat trus siangnya beliin jilbab itjho. tq ya dedek.....

Babe ngasi selamat ba'da sholat maghrib berjama'ah disusul ibu yg belum cium aku, dan adek yg ikut2an cium2 --mujahidku cinta yg nun jauh di Bogor inget ga ya mbak-nya milad, lupa minta do'ain--

Ya Waduud, makasih ya atas orang-orang yang mencintai dan memperhatikanku, berilah balasan terbaik atas cinta dan perhatian mereka..... may we meet in Jannah,amiin.....
Rabb...kabulkan pintaku di sepertiga malam yang tadi ya............ Berilah penetapan terbaik untukku.....

@hari berkurangnya usia; 140906

Selengkapnya...

Sabtu, 26 Agustus 2006

Ternyata Begini Rasanya Bekerja

Dari Al-Miqdam Ibn Ma’di Karib, dari Nabi SAW., beliau bersabda :

“Tidak ada sama sekali orang yang memakan makanan lebih baik daripada memakan dari hasil usahanya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Dauh AS. adalah memakan dari hasil usahanya sendiri.” (HR. Bukhari)

Genap sepekan aku membantu seorang teman ibu yang meminta tolong mengelola toko obatnya. Jangan ditanya bagaimana aku bisa bekerja di sana, tapi tanyalah bagaimana perasaanku. Awalnya ragu menerima tawaran itu, ga nyambung banget dengan ilmu yang kutekuni di kampus merah. Dengan jam kerja yang hanya setengah hari, tugasku hanya membantu menjaga toko obatnya itu, mengawasi pegawainya dan memanajemen keluar-masuknya barang. Karena memang sebagian besar waktu pagiku senggang maka kuputuskan menerima tawaran itu –belajar mandiri githuu…--, hitung-hitung belajar bisnis –katanya pengen punya cafĂ©—Di waktu yang hampir bersamaan, lamaran untuk mengajar di salah satu lembaga pendidikan pun mendapat tanggapan positif. Sekarang aku memiliki kesibukan baru; pagi jaga toko dan sore mengajar. Belum lagi ditambah dengan amanah di beberapa lembaga dakwah, subhanallah….rasanya ga ada waktu luang untuk sekedar meluruskan punggung.

Sebenarnya ingin mengundurkan diri saja dari lembaga pendidikan itu karena toh honorarium yang kuperoleh ga begitu besar, tapi karena letaknya di wilayah DPC jadi sayang banget kalo’ dilepaskan –sarana rekrutmen yang strategis githuu..—

Tapi ada satu hal yang membuatku sedih, seringkali jadwal kerja membuatku melewatkan acara-acara jamai’i. Sekarang aku tau gimana rasanya ga bisa ikut agenda jama’i ataupun bisa ikut tapi ga maksimal. Dulu waktu masih kuliah sering kali berfikir kalo’ temen-temen liqo’ yang udah kerja ga mau sedikit berkorban supaya waktu ketemu bisa match atau berkorban untuk bisa menghadiri agenda-agenda jama’i. Dan sekarang, aku yang merasakannya…. Harusnya mereka-mereka dikasihani, karena bukan mereka ga ingin hadir tapi memang dilematis ketika memang kondisinya ga memungkinkan untuk izin. Alhamdulillah Ibu pemilik toko yang kukelola orangnya hanif jadi tetap bisa sholat dhuha’, sholat tepat waktu bahkan bisa izin ketika adik-adik memintaku mengisi acara diskusi di kampus. Semoga ke depannya tetap Allah mudahkan,amiin…..

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)

---koq rasanya ga teratur sih menuangkan idenya?! Pinter2 yg baca deh menangkap apa yg mau disampaikan----

Selengkapnya...

Kado Istimewa Untuk Seseorang yang Istimewa

Pernikahan sahabatku tinggal beberapa hari lagi, bingung mau kasi kado apa. Kasi buku, ehm….kamarnya aja isinya buku semua, lebih mirip perpustakaan mini dibandingkan kamar. Khawatir juga sahabatku itu udah punya buku yang nantinya kuberikan padanya. Kado lain? Apa ya….?! Rasanya tidak ada sesuatu yang lebih disukainya ketimbang buku. Akhirnya aku memutuskan memberinya sebuah buku, meski belum menemukan pilihan buku yang tepat sebagai hadiah yang mengesankan. Tapi buku apa yang belum dimilikinya? Buku-buku seri pernikahan atau pendidikan anak, hampir semua dimilikinya. Bingung….. Tapi rasanya memberi buku ga ada spesialnya, aku ingin memberi sesuatu yang istimewa di hari istimewa untuk salah seorang yang istimewa dalam kehidupanku. Dan kemudian Allah mengilhamkan sebuah ide; meminta Sakti Wibowo –salah satu penulis yang kami (sahabatku dan aku) kagumi karya-karyanya—untuk membuatkan puisi untuk sahabatku itu. Karena pemakaian pulsaku bulan ini terasa besar, maka kuputuskan untuk meminta kesediaan Mas Sakti via sms, dan…..tidak ada balasan. Kuputuskan untuk menelfonnya besok pagi, “karena operatornya sama jadi bisa telfon murah besok pagi-pagi” pikirku. Esok paginya sampai batas waktu “telfon murah” habis, HaPe-nya Mas Sakti masih belum aktif juga. Sempat ragu menghubungi beliau via telfon, “tagihan bulan ini bisa bengkak” batinku. Tapi aku segera menepis keraguan itu, aku mencintai sahabatku karenaNya dan membuatnya bahagia tentu merupakan sebuah kebaikan. InsyaAllah diganti Allah deh untuk bisa bayar tagihan… –dan ternyata Allah bayar cash, sore harinya aku mendapat panggilan dari PRIMAGAMA untuk mengajar di lembaga pendidikan itu, Allahu Akbar…-- kucari nomer HP Mas Sakti di deretan phonebook HP ku; SW, yup ini dia. Sambutan hangat dari penerima telfon membuat debaran jantungku mereda –ternyata SW ramah buangeet!—kekhawatiran bahwa beliau menolak permintaanku ternyata tidak terbukti. Alhamdulillah….Mas Sakti bersedia membuatkan sebuah puisi untuk kado pernikahan sahabatku. Singkat cerita, karena satu dan lain hal akhirnya Mas Sakti mengirimkan dua buah cerpen sebagai kado pernikahan dan cerpen itu menjadi kado tambahan sebuah buku berjudul “Kado Pengantin”. Semoga itu menjadi kado istimewa untuk anti dan (calon) suami anti. Barakallahu laka wa baroka ‘alainaka wa jama’a bainakuma fii khairiin…. Selengkapnya...

Selasa, 01 Agustus 2006

Kali Ini Bingung Memberi Judul….

Siang tadi aku memeluknya erat, sangat erat dan rasanya tak ingin melepaskan pelukanku. Sambil terisak aku berbisik padanya “seperti yang desi bilang kemaren, kehidupan sesungguhnya telah dimulai kak….”, tak kuasa menahan bulir bening yang berlomba keluar dari pelupuk mata yang terasa sendu. “Janganlah melepas kakak dengan tangis, lepaslah dengan senyum” jawabnya setengah bercanda. Kulepaskan pelukanku darinya sembari pura-pura merajuk.

Belum sampai satu pekan sejak kami membicarakan persiapan pernikahan rekan sesama pengurus KAMDA, saat itu ia berkata “tak terase, kita’ dah pade besa’ dah….” (baca: ga terasa, sekarang kalian udah pada dewasa”. Kami lalu mengingat masa-masa perjuangan di dakwah kampus, suka dan duka yang kami alami bersama.

Ya….waktu memang berlalu begitu cepat, kami bukan lagi adik kecil yang harus diperhatikan oleh kakak2 atau abang2 senior, bukan pula anak yang bisa bersembunyi di ketiak ibunya ketika melakukan kesalahan. Kami; aku dan teman-teman se-angkatan kini sudah mencapai fase dewasa di mana kami harus bisa bertanggung jawab sendiri. Kini, satu per satu memulai kehidupan yang sebenarnya.

Bulan kemarin Agus; Ketua Departemen Kebijakan Publik yang ditugaskan ke luar kota dan Dedee; bendahara KAMMI Daerah Kal-Bar juga diterima di Kejaksaan meski belum menerima SK penempatan tapi sepertinya juga akan meninggalkan Pontianak. Masih di bulan yang sama Dian, sahabatku sejak SMU yang kemudian jadi salah satu staff kaderisasi menikah. Bulan ini giliran Kak Yeyen; sekretaris KAMMI Daerah KalBar, meski ga se-angkatan tapi karena amanah dakwah kami jadi akrab, beliau ketrima program beasiswa S-2 di UI. Dan awal bulan depan, sahabat dekatku, salah seorang staff kaderisasi juga akan menikah, kemungkinan akan ke luar Pontianak juga. Sebentar lagi mungkin akan menyusul sahabat-sahabat lain yang pergi; mungkin Mushar, Ketua Departemen Kaderisasi yang pulang kampong ke Depok atau Huda, Ketua KAMMI Daerah KalBar yang pulang ke kembali ke tempat asal di Jakarta. Waaah…..siapa dunk yang tersisa…?!?! Jadi tambah sedih deh….

Rasanya tak ingin menyudahi munajatku selepas sholat maghrib, terbayang wajah saudara-saudara seiman. Do’a tulus untuk mereka mengalun dari lisan ini. Meski akan ada yang terasa hilang nantinya, tapi ini adalah sunatullah yang harus dilalui. Tidak setiap pertemuan mencerminkan kedekatan hati dan tidak setiap perpisahan berarti menjauhkan hati. Ukhuwah adalah saling mencintai dan mengasihi dalam ikatan tali agama Allah. Bertemu dan berpisah karena Allah…… Ana ubibbukum fillah…. Ku tutup do’a yang kupanjatkan dengan sebuah pinta :“Ya Waduud, sampaikan salamku pada saudara-saudara yang kucintai karenaMu. Sampaikan pada mereka dengan caraMu yang paling indah, bahwa aku mencintai mereka karenaMu. Ya Allah…berilah kami keistiqomahan menapaki jalan dakwahMu, di jalan inilah kami dipersaudarakan dan di jalan ini pulalah kami berazam tuk menggapai Jannah-Mu. Rabb…pertemukanlah kami kelak di Jannah-Mu bersama Rasulullah, para sahabat dan orang-orang mu’min sebelum kami. Amiin…..”

kamar biroekoe, 310706 --catatan untuk para sahabat, untuk seorang kakak; selamat jalan saudariku, selamat berjuang membangun mimpi-mimpi menegakkan kegemilangan panji-panji Islam. Ana uhibbuki fillah kak…….--

Selengkapnya...

Minggu, 30 Juli 2006

TITIK TOLAK

Ketika mereka telah menemukan titik tolak dari keterpurukan pada masa-masa sulit yang kami hadapi, untuk kembali melejit….memberi amal-amal terbaik hanya untuk Allah…..
Aku tak ingin sendiri, diam dan terpaku dalam kenangan atas kegemilangan masa lalu. Aku tak ingin menjadi yang tertinggal, sungguh…aku pun ingin bangkit!
Jika pernah kita merasakan masa sulit dalam keterpurukan, kini kalian menemukan penawar bagi luka yang dirasakan, luka sama yang juga kurasakan
Jika aku pernah berfikir untuk menjauh sejenak untuk meraih mimpi dan mengobati luka, melihat dunia dan belajar banyak hal di luar sana tapi setelah merenung dan memikirkan banyak hal kini aku berubah fikiran…..
Jikalau kesulitan dan keterlukaan adalah mahar dari kekuatan, kebesaran dan kematangan jiwa maka aku memilih untuk melalui hari-hari sulit itu –setidaknya untuk beberapa saat, sampai kebutuhan akan ilmu yang dimili dapat digantikan orang lain-
Aku akan bangkit dan bertolak dari sini, di tempat yang sama di mana luka itu ada….
Namun yang pasti aku akan bangkit bersama kalian, bersama kita berlari menuju cinta dan keridha’an-Nya

Kelak akan Allah gantikan pedihnya luka dan sulitnya masa yang dilalui dengan sebaik-baik balasan, insyaAllah!
@270706

Selengkapnya...

Senin, 24 Juli 2006

Kalo Rezeki, Ga Bakal Lari Kemana….

Acara Talk Show tentang Pendidikan Anak dalam rangka Hari Anak Nasional kali salah satu pembicaranya adalah Pak Cah (Ust. Cahyadi Takariawan). Beberapa saat menjelang acara dimulai, seorang –yang sepertinya pembicara dari luar Pontianak- masuk aula tempat acara digelar ehm..tapi koq kaya’nya bukan Pak Cah ya….?! Sepertinya Pak Cah ga bisa datang dan digantikan dengan orang lain. Ku sikut mbak Fitri –temen satu DPC, dulu kuliah di Yogya- yang duduk di sebelah. “Mbak, itu bukan Pak Cah? Koq lebih muda ya..?! Kaya’nya bukan Pak Cah deh!”. “iya..tapi ustad siapa ya, kaya’nya kenal… Wajahnya ga asing” jawab mbak Fitri. “Ehm..kaya’ Ust. Nono deh” lanjutnya.
Karena MC langsung membuka acara, kami langsung mingkem menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang masih belum terjawab. Tapi mendengar nama Ust. Nono yang disebutkan mbak Firti, ingatan ku melayang pada waktu silaturahim ke Yogya dua tahun lalu. Acara pembukaan berlangsung, file di kepala “memutar” percakapan pada pagi di mana aku akan berangkat ke Jakarta malam harinya. “Mbak, besok ada acara loh di Masjid Mardhiyah.. yang ngisi Ust. Nono. Rugi banget deh klo mbak ga dateng. Jarang-jarang loh Ust. Nono ngisi sekarang kan beliau udah jadi anggota dewan” kira-kira begitulah yang diucapkan Shinta, berusaha merayu supaya aku mengundur waktu keberangkatan. “Pengennya sih, tapi yang nganter bisanya ntar malem Shin..” jawabku. “Rugi loh, dah jauh-jauh dari Pontianak ga ikut kajiannya Ust. Nono, orangnya asyik banget” Shinta makin gencar aja membujuk. Aku sempet ragu juga untuk berangkat, tapi karena udah mengundur keberangkatan beberapa hari sebab sempet sakit akhirnya aku membulatkan tekat untuk berangkat ke Jakarta malam ini. Di Jakarta juga ada banyak saudara yang harus dikunjungi, dan aku harus pulang ke Pontianak tepat waktu karena banyak amanah yang menanti. “Belum rezeki mbak lah Shin, dapet ilmu dari beliau” jawaban yang pasrah banget dan cukup efektif membuat Shinta menghentikan rayuannya meski dari wajahnya terlihat raut kecewa, jangankan dia yang ngajak.. ana yang diajak kaya’nya lebih kecewa deh tapi mau diapain lagi.
“….kepada Bapak Endri Nugraha Laksana dari Jakarta, kami persilahkan ke atas panggung” ucapan MC membuatku menghentikan nostalgia –klo ga bisa dibilang lamunan- “yah..bukan Ust. Nono deh kaya’nya” batinku, tapi entah kenapa aku tetap yakin klo ustad yang kini berada di depan ku adalah Ust. Nono. Tiba-tiba mbak Fitri berbisik “tuh…kan bener! itu Ustad Nono!! Tapi koq MC-nya tadi bilang ustadnya dari Jakarta ya?”. Yang ditanya Cuma senyum.
Karena panitia ga nyediakan form Curriculum Vitae, jadi sebelum memaparkan materi para pembicara terlebih dulu memperkenalkan diri. Dimulai dengan Pak Endri Nugraha Laksana, dan setelah memperkenalkan diri beliau meluruskan ucapan MC yang mengatakan beliau berasal dari Jakarta, “saya dari Yogya, hanya tadi malam transit di Jakarta”.
“Tuh…kan bener, Uts. Nono tuh!! pantesan wajahnya ga asing” ujar mbak Fitri girang. Aku hanya senyum-senyum meski ga dapat dipungkiri klo aku juga seneng banget, meski yang dateng bukan Pak Cah tapi yang gantiin adalah Ust. Nono. Alhamdulillah….ketemu juga akhirnya dengan yang namanya Ust. Nono, yang dua tahun lalu menjadi salah satu alasan berat rasanya meninggalkan Yogya. Ga kebayang akhirnya bisa berada di majelis ilmu bersama beliau, barakallah…. Klo rezaki, ga bakal lari kemana. Mungkin dua tahun lalu belum rizekinya untuk mendapatkan ilmu dari beliau atau mungkin memang belum saatnya mendapatkan ilmu yang beliau paparkan. Tapi yang pasti hari ini aku merasa sangat bersyukur berada di majelis ini. Wallahu’alam wastaghfirullah….
Untuk Shinta dan ‘teh Uyun, kaifa hal ukhti fillah..?! Kangen buanget euy, makasih atas tumpangannya di kos-an, makasih atas pinjeman baju birunya, makasih udah diajak ikutan rapat di gembira loka pagi-pagi, makasih udah nemenin belanja di malio boro, makasih udah nemenin beli cincin, makasih udah nganterin ke Kota Gede, makasih ngerawat dan perhatiin aku paslagi sakit, tengkyu buangeet..nget..nget sampe ngenget for every thing; hanya Allah yang bisa membalas kebaikan kalian dengan sebaik-baik balasan. Afwan ya..fotonya blum dikirim juga, negatifnya ilang sih. Mudah2an kita bisa ketemu lagi ya…. Miz u,ukh…
Selengkapnya...

Sabtu, 17 Juni 2006

Life is Begin

Aku tertegun ketika pesan singkat dari Ketua Departemen Kebijakan Publik -yang notebene-nya adalah mas’ul-ku- membuat HP berbunyi. Isi pesannya, beliau meminta maaf atas segala kesalahan selama berinteraksi dan PAMIT coz besok beliau harus pergi ke Sanggau. Yup, beberapa waktu lalu beliau diterima sebagai PNS dan menunggu penempatan. Dan ternyata SK-nya udah keluar. Life is begin, batinku.

Beberapa bulan belakangan banyak membuatku merenung, bahwa kini kita menghadapi dunia yang sebenarnya. Satu per satu ikhwah yang se-angkatan memulai “hidup”-nya. Ada yang kerja di luar kota, ada yang nikah trus ikut suaminya ke luar kota or else lah… Pasca kampus merupakan sebuah fase mendebarkan, setidaknya buatku. Karena di fase ini idealisme kita di uji, apakah kita memang kokoh atau kita kokoh karena lingkungan kita seperti itu. Bahkan pernah dalam sebuah diskusi dengan adik tingkat, beliau “nantang” kakak-kakaknya dengan mengatakan “akhwat-akhwat kaya’ kakak-kakak nih ana yakin, setelah nikah pasti ilang dari peredaran. Cobelah (baca: cobalah) liat kakak-kakak ’98, siape sih sekarang yang jadi tokoh?! Kite liat jak nanti kakak nih kaya’ mane (baca: kita lihat saja nanti kk gimana)…”.

Jika ketika masih di kampus ada salah satu teman kita menghadapi masalah, yang lain pasti cepat merespon agar masalahnya tidak berpengaruh pada kondisi ruhiyahnya, saling menguatkan (ukhuwah itu indah buanget ya, guy’s?!). Tapi ketika pasca kampus, kita tidak berada pada komunitas dominan yang bisa mem-back up diri. Kita dituntut untuk bisa survive dan memang tarbiyah mencetak kader yang bisa tarbiyah dzatiyah.

Ffffhhh……nulis apa lagi ya, koq jadi pengen nangis! Sedih, terharu, tau’ ah gelap…. Inget pertama kali gabung di LDK, kenal sama ikhwah laen, inget kalo’ pas berantem, inget suka dan dukanya ngelola dakwah kampus, jadi solid dengan ikhwah se-angkatan, eh…trus sekarang satu per satu pisah….. ihiks….ntar ketemu lagi udah pada bawa anak, ada yang jadi dewan (kali..). Duh, ga kuat lagi mau mikir, emosio-nya lebih dominant…… udahan aja, eh….my poem;

Rabb…..sampaikan pada sahabat-sahabatku dengan caraMu yang paliing indah, bahwa aku sangat mencintai mereka karenaMu.

Rabb…jagalah aku dan sahabat-sahabatku agar tetap istiqomah di Jalan dakwahMu, meski badai menerpa…

Rabb…hilangkan keragu-raguan dari dada ini, hilangkan kekerdilan dari jiwa kami, gantikanlah dengan semangat dan azzam serta kerindu-an untuk berjumpa denganMu

Rabb…berilah aku dan sahabat-sahabatku kekuatan untuk meneruskan risalah Rasul yang mulia

Rabb…..sampaikan pada sahabat-sahabatku dengan caraMu yang paliing indah, bahwa aku sangat mencintai mereka karenaMu.

Satukan kami dalam keta’atan, dalam keimanan padaMu. Pertemukanlah kami kelak di JannahMu bersama Rasulullah, para sahabat mulia dan orang-orang mukmin sebelum kami.

Rabb…..kabulkan pinta hambaMu ini…. Selengkapnya...

Senin, 12 Juni 2006

Pecinta Biru yang Mengharu Biru

Hmmm…..kali ini aku ingin membagi kebahagiaan yang kurasakan. Pertama; aku merasa bahagia karena salah satu ikhwan senior di Badan Kerohanian Mahasiswa Islam di Universitas tempat-ku menimba ilmu beberapa waktu yang lalu akan menikah. Kedua, aku bahagia karena sahabat-ku sejak di SMU juga akan menikah. Dan kebahagiaan ketiga, adalah sahabatku akan menikah dengan abang senior-ku itu.

Mungkin buat orang lain itu adalah peristiwa yang biasa-biasa saja, tapi tidak bagi-ku karena mereka berdua adalah orang yang sangat berarti dalam perjalanan kehidupanku. Si ikhwan adalah qiyadah pertama di organisasi dakwah pertama pula yang pernah ku ikuti. Dengan sabar beliau dan abang-abang serta kakak-kakak yang lain membimbing aku dan teman-teman se-angkatan yang bergabung dalam organisasi tersebut. Yang lebih membuatku terkesan adalah sapaan hangat beliau setiap aku mampir ke secretariat, “gimana di hukum, des..?”(maksudnya, gimana rasanya di fakultas hukum). Sapaan itu selalu memaksaku bercerita dengan disertai isakan, karena pada waktu itu kondisi dakwah di “kampus merah” yang memang paling tidak kondusif di banding fakultas yang lain. Usai mendengar cerita-ku beliau dan senior-senior yang lain pasti memberikan penguatan. Yup! Perhatian sebagai qiyadah terhadap jundi-jundi beliau lah yang membuat aku terkesan dengan ikhwan senior yang satu ini.

Sedangkan si akhwat adalah salah satu teman halaqoh pertama-ku, ia adalah salah satu teman yang tak kenal lelah memotivasi di awal-awal masa hijrah. Ketika halaqoh kami di “segarkan” ternyata Allah mempertemukan kami kembali di tambah lagi kami mendapatkan amanah dakwah yang sama. Tentunya kebersamaan yang terjalin selama lebih dari dua tahun membuat ikatan ukhuwah di antara kami lebih erat. Sahabat-ku sejak SMU kini tinggal si akhwat dan seorang akhwat lagi, lainnya udah mudik ke kampong halamannya masing-masing di Pulau Jawa.

Jadi tidak aneh kan jika aku merasa bahagia hari ini, karena mereka akan menikah….!!! Kehadiran di sebuah acara akad nikah hari ini terasa berbeda, karena kali ini aku berada di dalam kamar pengantin menemani si akhwat (meski seorang lagi sahabat kami ga bisa ikut merasakan kegembiraan ini secara langsung coz ada amanah dakwah di luar kota). Beberapa saat sebelum acara di mulai terdengar suara tar (tar = rebana) yang di tabuh, jantungku yang sejak menemani si akhwat berdetak tak karuan kini berdegup semakin kencang. Lha…koq jadi aku yang deg-degan, tapi memang gitulah penyakitku jika menghadiri akad nikah. Orang lain yang mau nikah, malah aku yang nervous. Gimana kalo’ nanti aku yang nikah ya..?!, batinku……

Ketika ijab-qobul diucapkan sahabatku menangis, si pecinta biru kini tak kuasa menahan haru. Aku pun tak bisa menahan buliran bening yang berloncatan ke luar dari pelupuk mata (bener-bener mengharu biru suasananya, apalagi saat sungkeman…ihiks…). Perjanjian antara mereka berdua dengan Allah telah di ucapkan. Lembar baru membangun peradaban kini telah dimulai… Tak ada hadiah istimewa yang dapat kuberikan pada orang-orang yang kucinta ini kecuali do’a; Barakallahulaka wa baraka ‘alainaka wa jana’a bainakuma fii khairin (semoga Allah memberi berkah dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan).

Untuk Bang Ham dan Dian, selamat berjuang membangun peradaban! Untuk seorang sahabat yang tengah berproses, moga proposal itu adalah jawaban atas munajatmu,ukh… Moga Allah mudahkan prosesnye. Do’e-kan daku cepet nyusul kita’ (kita’ = kalian, bahasa Melayu) yee…. ;)
laut_biroe@030606

Selengkapnya...

Sabtu, 08 April 2006

Manusia – manusia Langit

Memaknai idealita yang kadang tak dapat berdamai dengan realita sungguh merupakan proses pembelajaran yang cukup sulit bagiku. Ketika hampir setiap pekan dalam dalam forum halaqoh aku mengetahui konsep idealita yang harus dibangun dalam proses tegaknya kalimat Allah di muka bumi namun begitu kaki ini beranjak keluar dari forum halaqoh menuju pos-pos dakwah tempat mengaplikasikan konsep idealita yang kudapat sering kali realita yang kutemui tak seindah yang seharusnya terjadi.
Misalnya saja tentang cara bercandanya para ikhwan yang mungkin saking pengen akrabnya kadang kebablasan dengan canda yang gak syar’i. Bukankah Rasulullah sendiri meberi contoh bahwa canda itu sah-sah saja asal tidak mengandung kebohongan,tidak menyakiti hati orang lain dan tidak mengandung unsur kemungkaran. Atau tentang cara para ikhwan menghargai saudaranya, sering kali kudengar mereka diskusi entah ketika rapat atau pun diskusi lepas ketika berkumpul, jarang sekali ku dengar diskusi yang “nadanya” enak didengar. Yang ada adalah debat yang sering kali tidak memperhatikan adab; kadang menjatuhkan, memotong pembicaraa saudaranya, sampai terkadang memojokkan (meski mungkin tak bermaksud seperti itu) namun itulah yang terjadi. Hhmmm...apa mungkin aku yang terlalu membesarkan masalah?! Tapi bukankah dalam berdebat pun dalam Islam ada adabnya….?!?!?!
Kasus lain adalah tentang amanah dakwah yang harusnya di pikul bersama oleh para rijalud dakwah, namun kenyataannya banyak sekali kader yang memang harusnya ikut mengambil bagian dalam kerja-kerja jama’i ini tapi mereka malah membiarkan saudaranya yang mengambil bagian itu, padahal orang yang mengambil bagiannya telah memikul amanah di pundak kiri dan kanannya. Kemana konsep amal jama’i….?!?! Aahhh….husnudzon saja, mungkin mereka telah mengambil bagian di wilayah dakwah yang lain. Tapi kenyataannya mereka tak ada di mana-mana……!!!! Tetap husnuzdon saja, mungkin amanahnya tidak dzohir……..
Berbagai realitas yang ku hadapi memunculkan sebuah pertanyaan besar; kemana materi-materi tarbiyah yang selama ini di dapat? Apa mungkin hilang tanpa bekas….?!?! Memang banyaknya materi yang di dapat atau lamanya tarbiyah seseorang tidak menjamin kefahamannya terhadap Islam dan harokah, tapi setidaknya ada atsar dari apa yang telah didapatkan dalam proses panjang tarbiyah (entahlah…..aku pun tak mampu berkata banyak, hanya mampu berharap aku termasuk orang yang diberi keistiqomahan berpijak dalam jalan dakwahNya sampai kemuliaan syahadah menjemput….)
Kualitas jama’ah ini sangat bergantung pada kualitas kader yang berada dalamnya. Aku tak ingin hanya mengeluh dan merasa tidak puas tapi bagaimana apa yang selama ini membuatku tak puas maupun menjadi pemacu untukku bergegas….terus dan terus melakukan perbaikan diri, mungkin aku tak mampu berbuat banyak untuk merubah orang lain tapi aku akan terus berusaha membenahi diri dan menjadi solusi bagi orang lain, tak hanya sekedar menjadi problem speaker. Karena aku adalah bagian dari dari jama’ah bagian dari masa depan dakwah. Dan komitmen pada nilai-nilai Islam yang selama ini ditanamkan dalam setiap pertemuan halaqoh adalah jawaban..!!!

Rabb…..izinkan aku menjadi bagian dari manusia-manusia langit, komunitas yang berorientasi pada langit. Manusia yang berorientasi akhirat yang berada di bumi. menjadi manusia langit, yang dengan sayapnya dapat meringankan beban bumi… yang dengan biru lembutnya memberi keteduhan……. Namun sekokoh apapun manusia langit, tanpa Rabbnya dia bukan apa-apa……

Selengkapnya...